Pembantaian 750 Orangutan yang dilakukan oleh perusahaan milik “MALAYSIA”

Posted: November 23, 2011 in Budaya

Kini, pembantaian orangutan bukan hanya isu di Indonesia,  tapi juga jadi perhatian dunia. Sejumlah media  internasional memberitakan kasus ini.

Washington Post pada Senin 14 November 2011  memberitakan tentang sebuah survei yang dilakukan terkait Orangutan. Erik Meijaard, penulis utama laporan survei yang dimuat jurnal PLoSOne mengatakan, ia yakin pembantaian menunjukkan Orangutan menghadapi ancaman serius, lebih gawat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Indonesia adalah rumah bagi 90 persen spesies  Orangutan. Sekitar 50 ribu sampai 60 ribu hewan itu  tinggal di hutan rimba. Namun  akibat pembabatan hutan  untuk perkebunan kayu bahan kertas, atau kelapa sawit,  Orangutan berkonflik dengan manusia.

Sementara, Nature Conservancy dan sejumlah organisasi lain mewawancarai sedikitnya 7.000 warga di 687 desa untuk mengetahui alasan mereka membunuh orangutan.


Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan pentingnya menjaga kelestarian hutan. Dia tak ingin generasi mendatang mendapat cerita mengenai kepunahan sejumlah spesies karena hutan terbabat habis.

“Saya tidak ingin nanti menjelaskan kepada cucu saya, Almira (Tunggadewi), bahwa kita tidak bisa melestarikan hutan,” kata Presiden SBY dalam pidato konferensi internasional mengenai hutan di Jakarta, Selasa 27 September 2011.

Menurut dia, hutan bukan saja penyaring udara tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati. “Keajaiban dunia hewan seperti harimau Sumatra, badak dan orangutan,” kata Yudhoyono.

Malaysia memang makin menjadi-jadi. Selain mengklaim beberapa budaya tradisional Indonesia, Negara Jiran itu juga dengan licik menggeser patok perbatasan wilayah kedua negara. Parahnya, bukan hanya pemerintahnya saja yang berulah, tetapi perusahaan swasta asal Malaysia pun latah berbuat semena-mena di Indonesia.

Tengok saja kasus pembantaian orangutan di areal kebun sawit PT Khaleda Agroprima Malindo (KAM), Kalimantan Timur. Anak usaha Metro Kajang Holdings Bhd asal Malaysia ini membabat hutan dan membahayakan nyawa orangutan dan satwa liar lain di Muara Kaman, Kalimantan Timur.

Syukurlah, aparat polisi langsung bergerak cepat. Dua orang eksekutor yang tega membantai orang utan sudah ditahan dan bakal dikenakan pasal berlapis, yakni KUHP, UU Lingkungan hidup, dan UU Perlindungan Satwa langka.

Namun persoalan tidak selesai sampai di situ. Karena lokasi pembantaian berada di wilayah Indonesia, dunia internasional akan menganggap Indonesia tidak mampu melindungi satwa langka. Industri sawit Indonesia juga akan dicap kerap bertindak brutal dan merusak alam. Pada akhirnya, pasar internasional akan membeli sawit Malaysia. Sawit Indonesia harus dijual dulu dan dilabeli ramah lingkungan di Malaysia agar bisa laku di pasar dunia.

Lantas, bagaimana sikap LSM asal asing Greenpeace?

Hingga kini LSM yang mengaku pejuang lingkungan, diam seribu bahasa. Padahal 2010 lalu, Greenpeace berkoar-koar mendesak pemerintah untuk menghentikan pengrusakan hutan Indonesia. Alasan utama Greenpeace saat itu adalah untuk melindungi orang utan.

Menyaksikan kebisuan Greenpeace, saya semakin percaya LSM ini memang hanya berkoar-koar jika ada perintah dan kepentingan pendonornya. Cobalah simak artikel berjudul My Jakarta: Sari, Ex-Activist, di jakartaglobe.com, edisi 06 Oktober 2011.

Disebutkan, Sari yang sebelumnya aktif di sebuah LSM lingkungan bertaraf internasional akhirnya merasakan ada yang aneh di LSM tersebut. Dia bersaksi betapa LSM tersebut sudah berubah layaknya sebuah perusahaan. Sari juga menyebutkan, jika tidak ada perintah dan kepentingan pendonornya, LSM tersebut tidak akan sibuk berkampanye.

Saya menangkap yang dimaksud Sari adalah LSM Greenpeace. Pasalnya, pola kerja Greenpeace persis seperti penuturan Sari. Bisa disimpulkan, Greenpeace hanya akan bergerak apabila isu kampanye mereka bisa mendatangkan pundi-pundi uang.

Kalau Greenpeace organisasi independen, kenapa takut menghadapi pengusaha Malaysia?

Atau jangan-jangan, Greenpeace melihat tidak ada peluang ‘uang’ di sana. Lebih parah lagi, jangan-jangan Greenpeace cabang Indonesia merupakan kaki tangan pengusaha Malaysia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s